Lewat Inovasi 'Dikcara', SDN Lasung Batu 2 Ubah Dinding Kosong Jadi Media Edukasi

INOVASI DIKCARA: SDN Lasung Batu 2 menghadirkan inovasi Dikcara (Dinding Kelas Berbicara) sebagai upaya menciptakan suasana belajar yang lebih hidup, edukatif, dan berkarakter - Foto Istimewa.


TOPRILIS.COM, KALSEL – Lingkungan belajar yang nyaman, menarik, dan inspiratif menjadi salah satu faktor penting dalam meningkatkan motivasi belajar peserta didik. Berangkat dari kondisi ruang kelas yang masih didominasi dinding kosong dan tampilan monoton, SDN Lasung Batu 2 menghadirkan inovasi Dikcara (Dinding Kelas Berbicara) sebagai upaya menciptakan suasana belajar yang lebih hidup, edukatif, dan berkarakter.

Inovasi yang digagas oleh Kepala SDN Lasung Batu 2, Akhmad Maidinor ini mengubah dinding-dinding kelas menjadi media pembelajaran visual melalui mural edukatif, kutipan motivasi, nilai-nilai karakter, serta ilustrasi yang disesuaikan dengan usia dan kebutuhan peserta didik. Kehadiran visual inspiratif tersebut tidak hanya memperindah ruang kelas, tetapi juga menjadi "guru kedua" yang dapat dinikmati siswa setiap hari.


Lahirnya Dikcara berawal dari keprihatinan terhadap kondisi lingkungan belajar yang dinilai belum mampu memberikan stimulasi visual bagi peserta didik. Sebagai sekolah dasar di Kecamatan Paringin dengan jumlah siswa yang cukup banyak, SDN Lasung Batu 2 membutuhkan inovasi sederhana namun berdampak besar dalam membangun semangat belajar serta memperkuat pendidikan karakter.

Sebelum diterapkan, pihak sekolah melakukan identifikasi kondisi kelas, diskusi bersama guru, studi referensi media pembelajaran visual, serta berkonsultasi dengan komite sekolah dan orang tua. Hasilnya, konsep Dinding Kelas Berbicara mulai diimplementasikan pada tahun 2024 secara kolaboratif bersama guru, alumni, dan pihak yang peduli terhadap pengembangan lingkungan belajar.



Dampak Nyata dan Replikasi di Sekolah Lain

Perubahan tersebut memberikan dampak nyata. Suasana kelas menjadi lebih ceria, nyaman, dan menyenangkan. Guru merasakan proses pembelajaran berlangsung lebih kondusif, sementara peserta didik menunjukkan antusiasme lebih tinggi karena belajar tidak hanya dari buku, tetapi juga dari lingkungan sekitar.

Keunggulan Dikcara terletak pada kemampuannya memanfaatkan ruang yang sebelumnya tidak produktif menjadi media pembelajaran efektif, sekaligus mendukung implementasi Penguatan Pendidikan Karakter (PPK). Desain mural juga disusun tematik agar sesuai perkembangan psikologis siswa di setiap jenjang kelas.


Inovasi ini bahkan berkembang melampaui SDN Lasung Batu 2. Sejumlah sekolah di Kabupaten Balangan mulai mengadopsi konsep serupa. Bahkan layanan pembuatan mural edukatif kini berkembang sebagai bentuk kolaborasi antarsekolah. Hingga saat ini, hampir separuh sekolah di Kabupaten Balangan telah terinspirasi dan memanfaatkan konsep maupun layanan tersebut.


Inovator Dikcara, Akhmad Maidinor, menyampaikan filosofi di balik inovasi ini:

"Saya percaya bahwa pendidikan tidak hanya berlangsung ketika guru menjelaskan pelajaran di depan kelas. Dinding kelas pun dapat menjadi guru yang selalu hadir setiap hari. Melalui Dikcara, kami ingin menghadirkan ruang belajar yang mampu berbicara kepada anak-anak, menginspirasi mereka untuk bermimpi, menumbuhkan karakter positif, serta memotivasi mereka agar terus belajar dengan penuh semangat," ujarnya.

Melalui Dikcara, SDN Lasung Batu 2 membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu membutuhkan teknologi rumit atau biaya tinggi. Dengan kreativitas, kepemimpinan visioner, dan kolaborasi, ruang kelas dapat bertransformasi menjadi media pembelajaran yang membangun karakter, meningkatkan motivasi, serta menciptakan ekosistem pendidikan yang lebih humanis, inovatif, dan berkelanjutan.(rls/elhami)

Muhammad Elhami

“sesobek catatan di antara perjalanan meraih yang kekal dan memaknai kesementaraan; semacam solilokui untuk saling mengingatkan, saling menguatkan, berbagi keresahan dan kegetiran, keindahan dan kebahagiaan, agar hidup menjadi cukup berharga untuk tidak begitu saja dilewatkan”

Lebih baru Lebih lama