Bahlil Hidupkan Lagi Program Kompor Listrik, Ibu Rumah Tangga Daya Rendah Jadi Sasaran Utama

PROGRAM KOMPOR LISTRIK: Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengaku akan menyiapkan kompor listrik dengan daya di bawah 900 kilovolt ampere (kVA) untuk rumah tangga - Foto Net.

TOPRILIS.COM, JAKARTA - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengaku akan menyiapkan kompor listrik dengan daya di bawah 900 kilovolt ampere (kVA) untuk rumah tangga.

Program terbaru Bahlil ini dilakukan sebagai langkah konversi kompor LPG menjadi kompor listrik.

“Sebagai tahap awal, karena ada beberapa model kompor listrik, yang sekarang kami minta itu di sekitar di bawah 900 kVA, supaya rakyat yang di daerah-daerah, di desa itu bisa pakai,” ujar Bahlil di Gedung DPR, Jakarta, Senin (15/6).

Kendati demikian, Bahlil mengaku belum menentukan berapa unit kompor listrik yang akan disiapkan. 

Bahlil memperkirakan kepastian jumlah unit kompor listriknya baru bisa diumumkan pada Agustus mendatang.

Bahlil menjelaskan saat ini Indonesia mengimpor 80 persen dari kebutuhan LPG di dalam negeri.

Sebab kata dia, setiap tahun pemerintah mesti mengeluarkan duit untuk melakukan impor LPG sebesar Rp 120 triliun.

Dengan harga minyak dunia yang seperti saat ini, ia mengatakan devisa yang dikeluarkan untuk mengimpor LPG mencapai Rp 130 triliun.

“Subsidinya sudah di atas Rp 80 triliun. Kalau kondisi ini terus dibiarkan tanpa mencari diversifikasi bauran energi, itu akan menjadi masalah. Maka, alternatifnya adalah kompor listrik,” kata Bahlil.

Karena itu Bahlil mengusulkan anggaran sebesar Rp 815,56 miliar dalam Rancangan APBN 2027 untuk program kompor listrik ini.
Sekadar informasi wacana transisi dari kompor LPG menjadi kompor listrik pernah bergulir pada masa kepresidenan Joko Widodo (Jokowi).

Akan tetapi, pada September 2022, PT PLN (Persero) membatalkan program pengalihan kompor LPG 3 kilogram ke kompor listrik untuk menjaga kenyamanan masyarakat dalam pemulihan ekonomi pascapandemi COVID-19.(ant/jpnn.com)

Muhammad Elhami

“sesobek catatan di antara perjalanan meraih yang kekal dan memaknai kesementaraan; semacam solilokui untuk saling mengingatkan, saling menguatkan, berbagi keresahan dan kegetiran, keindahan dan kebahagiaan, agar hidup menjadi cukup berharga untuk tidak begitu saja dilewatkan”

Lebih baru Lebih lama