![]() |
| KOMODITAS ANDALAN: Ikan nila atau disebut juga tilapia kini menjadi komoditas andalan baru ekspor perikanan Indonesia, khususnya untuk pasar Amerika Serikat dan Eropa - Foto Net. |
TOPRILIS.COM, JAKARTA - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) menegaskan ikan nila atau disebut juga tilapia kini menjadi komoditas andalan baru ekspor perikanan Indonesia, khususnya untuk pasar Amerika Serikat dan Eropa.
Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP KKP, Erwin Dwiyana mengungkapkan bahwa ikan tilapia menjadi salah satu daya tarik utama bagi konsumen global. Ikan tilapia dikenal sebagai Chicken of The Sea karena memiliki rasa yang ringan (mild) dan mudah diolah dengan kandungan protein tinggi mencapai 20 - 29 gram per 100 gram sajian.
Selain itu, tilapia rendah lemak jenuh serta mengandung Omega-3, 6, 9, vitamin B12, dan mineral bermanfaat lainnya.
Erwin menuturkan hal tersebut pada Kamis (14/5). Menurut Erwin, kelengkapan sertifikasi menjadi kunci utama kepercayaan pasar internasional terhadap produk perikanan Indonesia sehingga tilapia asal Indonesia diterima dengan baik tanpa adanya penolakan di negara tujuan ekspor.
Berkat penerapan standar sertifikasi yang ketat tersebut, Regal Springs Indonesia sebagai salah satu produsen utama ikan tilapia di Indonesia berhasil mencatatkan pencapaian signifikan di pasar internasional. Perusahaan ini sukses memasok jaringan pub terkemuka di Inggris bernama Greene King.
Direktur Regal Springs Indonesia, Tri Dharma Saputra mengungkapkan bahwa keberhasilan menembus pasar Eropa tidak terlepas dari terpenuhinya 37 sertifikasi yang salah satunya adalah Aquaculture Stewardship Council (ASC).
"Dengan adanya ASC ini maka budidaya perikanan Indonesia dituntut untuk bertransformasi. Semua diukur, dicatat, dan dievaluasi. Mulai dari pengelolaan air, pemberian pakan, hingga proses menjaga kesehatan dan kesejahteraan ikan. Transformasi ini memastikan bahwa tilapia Indonesia tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan," terangnya.
Di Inggris, tilapia sukses diolah menjadi menu fish and chip hingga hidangan boneless yang memberikan pengalaman fine dining berkualitas tinggi dengan tingkat keluhan konsumen yang sangat rendah.
Selain itu, dari segi harga, ikan ini sangat kompetitif dibandingkan dengan jenis ikan putih lainnya sehingga mampu merebut pangsa pasar yang sebelumnya didominasi oleh spesies whitefish yang lebih mapan seperti ikan kod dan ikan trout.
Selain mendorong ekspor tilapia premium, KKP sendiri terus mendorong produktivitas budidaya tilapia jenis nila melalui sejumlah program prioritas. Di antaranya program Budidaya Ikan Nila Salin (BINS) Karawang dan revitalisasi tambak Pantura.
Revitalisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi nila nasional sekaligus memastikan bahwa seluruh proses budidaya memenuhi standar internasional yang berlaku.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa sistem budidaya yang terukur, berkelanjutan, dan mampu dikelola sepanjang tahun tanpa bergantung pada musim atau eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan mampu menawarkan solusi konkret untuk mencapai ketahanan pangan nasional secara mandiri dan berdaulat.(detik.com/elh)
Direktur Pemasaran Ditjen PDSPKP KKP, Erwin Dwiyana mengungkapkan bahwa ikan tilapia menjadi salah satu daya tarik utama bagi konsumen global. Ikan tilapia dikenal sebagai Chicken of The Sea karena memiliki rasa yang ringan (mild) dan mudah diolah dengan kandungan protein tinggi mencapai 20 - 29 gram per 100 gram sajian.
Selain itu, tilapia rendah lemak jenuh serta mengandung Omega-3, 6, 9, vitamin B12, dan mineral bermanfaat lainnya.
"Saat ini tilapia menjadi komoditas ekspor kita yang zero penolakan. Kami melihat standar global sangat penting diperhatikan. Mulai dari persyaratan wajib seperti GMP-SSOP, HACCP, Health Certificate, dan Nomor Registrasi, dan diperkuat sertifikasi buyer-driven seperti GLOBALG.A.P., ISO 22000, SQF, BAP, ASC dan BRC, semuanya dilengkapi oleh seluruh eksportir kita sehingga pasar percaya dengan produk kita," ucap Erwin, dalam keterangan tertulis, Jumat (15/5/2026).
Erwin menuturkan hal tersebut pada Kamis (14/5). Menurut Erwin, kelengkapan sertifikasi menjadi kunci utama kepercayaan pasar internasional terhadap produk perikanan Indonesia sehingga tilapia asal Indonesia diterima dengan baik tanpa adanya penolakan di negara tujuan ekspor.
Berkat penerapan standar sertifikasi yang ketat tersebut, Regal Springs Indonesia sebagai salah satu produsen utama ikan tilapia di Indonesia berhasil mencatatkan pencapaian signifikan di pasar internasional. Perusahaan ini sukses memasok jaringan pub terkemuka di Inggris bernama Greene King.
Direktur Regal Springs Indonesia, Tri Dharma Saputra mengungkapkan bahwa keberhasilan menembus pasar Eropa tidak terlepas dari terpenuhinya 37 sertifikasi yang salah satunya adalah Aquaculture Stewardship Council (ASC).
"Dengan adanya ASC ini maka budidaya perikanan Indonesia dituntut untuk bertransformasi. Semua diukur, dicatat, dan dievaluasi. Mulai dari pengelolaan air, pemberian pakan, hingga proses menjaga kesehatan dan kesejahteraan ikan. Transformasi ini memastikan bahwa tilapia Indonesia tidak hanya berkualitas tinggi, tetapi juga ramah lingkungan dan berkelanjutan," terangnya.
Di Inggris, tilapia sukses diolah menjadi menu fish and chip hingga hidangan boneless yang memberikan pengalaman fine dining berkualitas tinggi dengan tingkat keluhan konsumen yang sangat rendah.
Selain itu, dari segi harga, ikan ini sangat kompetitif dibandingkan dengan jenis ikan putih lainnya sehingga mampu merebut pangsa pasar yang sebelumnya didominasi oleh spesies whitefish yang lebih mapan seperti ikan kod dan ikan trout.
Selain mendorong ekspor tilapia premium, KKP sendiri terus mendorong produktivitas budidaya tilapia jenis nila melalui sejumlah program prioritas. Di antaranya program Budidaya Ikan Nila Salin (BINS) Karawang dan revitalisasi tambak Pantura.
Revitalisasi ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas produksi nila nasional sekaligus memastikan bahwa seluruh proses budidaya memenuhi standar internasional yang berlaku.
Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa sistem budidaya yang terukur, berkelanjutan, dan mampu dikelola sepanjang tahun tanpa bergantung pada musim atau eksploitasi sumber daya alam secara berlebihan mampu menawarkan solusi konkret untuk mencapai ketahanan pangan nasional secara mandiri dan berdaulat.(detik.com/elh)
Tags
Bisnis
