TOPRILIS.COM, KALSEL – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Kalimantan Selatan menilai kinerja intermediasi lembaga jasa keuangan di Kalimantan Selatan posisi Mei 2026 tetap stabil dengan risiko yang terjaga. Kondisi ini terjadi di tengah ketidakpastian geopolitik global dan tekanan inflasi.
Ekonomi Kalsel Tumbuh 5,67%, Di Atas Nasional
Di tengah dinamika eksternal, ekonomi Kalimantan Selatan pada Triwulan I 2026 tetap menunjukkan resiliensi dengan tumbuh solid sebesar 5,67% (yoy). Angka ini lebih tinggi dibandingkan Triwulan IV 2025 sebesar 5,46% (yoy) dan di atas pertumbuhan nasional 5,61% (yoy).
Sementara itu, inflasi di Kalimantan Selatan pada Juni 2026 tercatat 4,47% (yoy) atau di atas nasional 3,08%. Kenaikan ini dipicu oleh harga emas perhiasan, beras, dan minyak goreng. Daya beli masyarakat Kalsel terhadap emas perhiasan yang tinggi turut menjadi penyumbang inflasi tertinggi. Sebagai alternatif, masyarakat disarankan melakukan diversifikasi investasi ke emas batangan, tabungan emas digital, Surat Berharga Negara (SBN), Sukuk Ritel, dan sektor riil.
Pertumbuhan ekonomi positif tersebut didukung oleh peningkatan fungsi intermediasi perbankan dari sisi kredit, aset, dan Dana Pihak Ketiga (DPK).
Kinerja Perbankan: Kredit Tumbuh 8,67%
Sektor perbankan masih menunjukkan pertumbuhan positif, didukung likuiditas memadai dan profil risiko terjaga. Posisi Mei 2026:
• Aset tumbuh 1,22% (yoy) menjadi Rp457,85 triliun
• DPK tumbuh 1,96% (yoy) menjadi Rp412,89 triliun
• Kredit tumbuh 8,67% (yoy) menjadi Rp350,02 triliun dengan NPL gross terjaga di level 2,38%
Berdasarkan jenis penggunaan, pertumbuhan tertinggi dicatat Kredit Investasi 17,67%, diikuti Kredit Konsumsi 6,64%, dan Kredit Modal Kerja 1,46%. Proporsi kredit UMKM terhadap total kredit di Kalsel mencapai 20,85%, dengan sektor Perdagangan Besar dan Eceran sebagai penerima pembiayaan UMKM terbesar senilai Rp8,56 triliun.
Pertumbuhan DPK ditopang giro yang naik 18,98% (yoy) dan tabungan naik 7,69% (yoy). Secara spasial, pangsa DPK terbesar berada di Kota Banjarmasin sebesar Rp61,62 triliun atau 62,92% dari total DPK provinsi.
Perbankan Syariah dan Pasar Modal Tumbuh Positif
Aset perbankan syariah terkontraksi 7,36% (yoy) menjadi Rp11,19 triliun, namun pembiayaan tumbuh 15,02% (yoy) menjadi Rp10,05 triliun. DPK syariah naik 1,72% (yoy) dan likuiditas tetap terjaga di 112,42% dengan NPF gross 0,62%.
Di sektor pasar modal, nilai transaksi saham di Kalsel Mei 2026 tercatat Rp2,51 triliun. Jumlah investor saham atau SID tumbuh 33,41% (yoy) menjadi 132.489 investor.
IKNB dan Fintech Dorong Inklusi Keuangan
Sektor Industri Keuangan Non-Bank (IKNB) juga tumbuh. Piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan mencapai Rp15,98 triliun atau tumbuh 34,66% (yoy). Sektor Pertambangan menjadi penerima pembiayaan tertinggi senilai Rp3,68 triliun.
Industri Pinjaman Daring (Pindar) juga meningkat signifikan. Outstanding pembiayaan April 2026 naik 27,55% (yoy) menjadi Rp347 miliar dengan TWP90 terjaga di 2,00%.
OJK Kalsel juga aktif mendorong inklusi keuangan syariah melalui kegiatan Syariah Financial Fair (SYAFIF) yang mencatatkan capaian sementara inklusi keuangan syariah sebesar Rp2,71 triliun dengan 28.576 NoA.
Edukasi dan Perlindungan Konsumen
Sejak Januari hingga 27 Juli 2026, OJK Kalsel telah melaksanakan 39 kegiatan edukasi dengan 4.907 peserta. Materi utama: Waspada Penawaran Jasa Keuangan Ilegal dan Waspada Kejahatan Digital.
Layanan SLIK yang diproses mencapai 11.804 permintaan, sementara pengaduan konsumen melalui APPK tercatat 3.955. Pengaduan terbanyak terkait fintech P2P lending 46,43%, Bank Umum 29,57%, dan Perusahaan Pembiayaan 20,43%. Sebanyak 82,57% pengaduan telah selesai ditindaklanjuti.
Komitmen OJK Kalsel
OJK Provinsi Kalimantan Selatan berkomitmen untuk terus mengoptimalkan peran lembaga jasa keuangan agar senantiasa menjadi motor penggerak utama pertumbuhan ekonomi di daerah.(Rilis ojk)
Tags
Berita OJK
