Keren! Inovasi SAKURA SD di Balangan Sulap Sampah Jadi Karya Bernilai

INOVASI SAKURA: Upaya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mengembangkan kreativitas, peserta didik di Kabupaten Balangan terus didorong melalui inovasi SAKURA (Sampah Kujadikan Karya) - Foto Istimewa.

TOPRILIS.COM, KALSEL – Upaya menumbuhkan kepedulian terhadap lingkungan sekaligus mengembangkan kreativitas, peserta didik di Kabupaten Balangan terus didorong melalui inovasi SAKURA (Sampah Kujadikan Karya).

Program pemanfaatan sampah menjadi karya seni dan kerajinan bernilai guna ini hadir sebagai solusi atas meningkatnya volume sampah di lingkungan sekolah sekaligus media pembelajaran menanamkan budaya peduli lingkungan sejak usia dini.


Inovator SAKURA, Tati, S.Pd, Kamis (16/7/2026) menjelaskan melalui SAKURA, peserta didik diajak memilah dan mengolah sampah, khususnya sampah anorganik seperti botol dan plastik bekas, menjadi berbagai hasil karya kreatif yang memiliki nilai estetika dan manfaat.

"Program ini juga menjadi sarana pembentukan karakter peserta didik sesuai Profil Pelajar Pancasila, seperti kreatif, mandiri, bernalar kritis, dan gotong royong," ujarnya.

Ia mengungkapkan, bahwa inovasi ini lahir dari kebutuhan mengatasi permasalahan pengelolaan sampah di lingkungan sekolah yang selama ini belum optimal.

Selain mengurangi volume sampah yang berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), SAKURA juga meningkatkan kesadaran warga sekolah tentang pentingnya menjaga kebersihan dan menerapkan prinsip daur ulang dalam kehidupan sehari-hari.


"Tidak hanya berfokus pada pengolahan sampah, SAKURA juga menjadi wadah kolaborasi antara peserta didik, guru, kepala sekolah, dan berbagai pemangku kepentingan. Kegiatan yang dilakukan meliputi pembinaan, pelatihan, workshop, monitoring, hingga evaluasi secara berkelanjutan agar inovasi dapat terus berkembang dan memberi manfaat lebih luas," jelasnya.

Lebih lanjut ia juga menyampaikan, bahwa inovasi ini tidak hanya bertujuan menciptakan karya dari barang bekas, tetapi juga membangun karakter peserta didik agar lebih peduli terhadap lingkungan.

“SAKURA mengajarkan bahwa sampah bukanlah sesuatu yang harus dibuang begitu saja, tetapi dapat diolah menjadi karya yang bernilai. Melalui inovasi ini, kami ingin menanamkan kebiasaan memilah, mengelola, dan memanfaatkan sampah sekaligus mengembangkan kreativitas peserta didik agar menjadi generasi yang peduli lingkungan dan mampu menghasilkan karya yang bermanfaat,” ujar Tati.


Ke depan, SAKURA diharapkan menjadi budaya positif di lingkungan sekolah sekaligus menginspirasi sekolah-sekolah lain di Kabupaten Balangan untuk mengembangkan inovasi serupa.

"Dengan semangat kolaborasi dan kreativitas, pengelolaan sampah tidak hanya berdampak bagi kelestarian lingkungan, tetapi juga menjadi sarana pembentukan karakter dan peningkatan keterampilan peserta didik," pungkasnya.(rls/elhami)

Muhammad Elhami

“sesobek catatan di antara perjalanan meraih yang kekal dan memaknai kesementaraan; semacam solilokui untuk saling mengingatkan, saling menguatkan, berbagi keresahan dan kegetiran, keindahan dan kebahagiaan, agar hidup menjadi cukup berharga untuk tidak begitu saja dilewatkan”

Lebih baru Lebih lama