Angkringan British di Balangan: Tempat Nongkrong Edukatif, Lahirkan Masyarakat Jago Bahasa Asing

INOVASI EDUKASI: Inovasi daerah dari Kabupaten Balangan Angkringan British, sebuah konsep pembelajaran bahasa Inggris yang mengintegrasikan edukasi dengan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) - Foto Istimewa.

TOPRILIS.COM, KALSEL – Inovasi daerah kembali lahir dari Kabupaten Balangan. Angkringan British, sebuah konsep pembelajaran bahasa Inggris yang mengintegrasikan edukasi dengan pemberdayaan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), resmi hadir sejak 2 Januari 2024.

Dengan mengusung slogan “Eat, Chill, Learn”, Angkringan British menghadirkan ruang belajar yang santai, interaktif, dan mudah diakses oleh seluruh lapisan masyarakat.


Menjawab Tantangan Rendahnya Kemampuan Bahasa Inggris

Angkringan British lahir sebagai jawaban atas masih rendahnya kemampuan bahasa Inggris masyarakat di Kabupaten Balangan. Kendala seperti terbatasnya waktu belajar di sekolah, minimnya kesempatan praktik, akses kursus yang mahal, serta anggapan bahwa bahasa Inggris sulit dan menakutkan, menjadi latar belakang lahirnya inovasi ini.

Melalui pendekatan nonformal, Angkringan British berupaya mengubah paradigma tersebut dengan menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan aplikatif.


Belajar Sambil Jualan: Konsep Experiential Learning

Keunikan inovasi ini terletak pada penggabungan kegiatan kuliner UMKM dengan pembelajaran bahasa Inggris. Masyarakat tidak hanya bisa mengikuti Free English Class gratis setiap hari Minggu, tetapi juga mempraktikkan kemampuan berbahasa Inggris secara langsung saat bertransaksi jual beli pada hari Jumat dan Minggu.

Pendekatan experiential learning ini membuat proses belajar terasa lebih alami dan sekaligus meningkatkan rasa percaya diri peserta dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris.


Dampak Ekonomi dan Sosial

Angkringan British juga menghadirkan sejumlah inovasi pendukung seperti penggunaan nama menu berbahasa Inggris, penerapan British Card yang berfungsi sebagai identitas sekaligus potongan harga, hingga kolaborasi dengan berbagai pelaku UMKM lokal.

Selain memperluas akses pembelajaran, inovasi ini turut mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat melalui penggunaan bahan baku lokal, sistem konsinyasi dengan UMKM, serta penciptaan lapangan kerja bagi mahasiswa dan ibu rumah tangga. Hasilnya, usaha ini berhasil mencapai Break Even Point (BEP) hanya dalam waktu sekitar dua bulan sejak beroperasi.

Sejak diluncurkan, Angkringan British telah memberikan manfaat kepada lebih dari 600 peserta melalui program Free English Class, praktik transaksi berbahasa Inggris, dan berbagai kegiatan edukasi berbasis UMKM.


Belajar Bahasa Inggris Bisa Sambil Santai

Inovator Angkringan British, Annisa Norrahmah, Selasa (28/7/2026) menyampaikan bahwa inovasi ini lahir dari keinginan menghadirkan pembelajaran bahasa Inggris yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

"Kami ingin menghilangkan anggapan bahwa belajar bahasa Inggris itu sulit dan hanya bisa dilakukan di ruang kelas. Melalui Angkringan British, masyarakat dapat belajar sambil menikmati suasana yang santai, berinteraksi secara langsung, sekaligus mendukung pertumbuhan UMKM lokal. Harapan kami, semakin banyak masyarakat yang berani menggunakan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari karena belajar akan terasa lebih mudah ketika dipraktikkan langsung," ujar Annisa.

Ke depan, Angkringan British diharapkan terus berkembang sebagai inovasi yang mampu menjawab tantangan peningkatan kualitas sumber daya manusia. Sekaligus menjadi contoh sinergi antara pendidikan, pemberdayaan ekonomi, dan inovasi daerah di Kabupaten Balangan.(rls/elhami)

Muhammad Elhami

“sesobek catatan di antara perjalanan meraih yang kekal dan memaknai kesementaraan; semacam solilokui untuk saling mengingatkan, saling menguatkan, berbagi keresahan dan kegetiran, keindahan dan kebahagiaan, agar hidup menjadi cukup berharga untuk tidak begitu saja dilewatkan”

Lebih baru Lebih lama