Sektor Jasa Keuangan Kalsel Terjaga, Dorong Ekonomi Terus Tumbuh

TERUS TUMBUH: Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Selatan menilai kinerja lembaga jasa keuangan di Kalimantan Selatan posisi Maret 2026 terpantau stabil dengan risiko tetap terjaga - Foto Net.

TOPRILIS.COM, KALSEL - Otoritas Jasa Keuangan Provinsi Kalimantan Selatan menilai kinerja lembaga jasa keuangan di Kalimantan Selatan posisi Maret 2026 terpantau stabil dengan risiko tetap terjaga.

Ketidakpastian geopolitik masih memengaruhi kinerja perekonomian global, meskipun telah tercapai kesepakatan gencatan senjata antara Iran dengan AS dan Israel. Penutupan Selat Hormuz tetap berlanjut akibat blokade yang masih dipertahankan, sehingga gangguan terhadap distribusi energi global belum sepenuhnya mereda.

Kondisi ini mendorong harga minyak tetap volatil dan bertahan pada level tinggi. Bagi Kalimantan Selatan, hal ini secara tidak langsung akan memengaruhi biaya logistik komoditas ekspor (seperti batu bara dan kelapa sawit) dan harga bahan baku akibat rantai pasok yang terganggu.

Namun demikian, ekonomi Kalimantan Selatan pada triwulan I 2026 masih menunjukkan tren positif, tumbuh solid sebesar 5,67 persen (yoy) lebih tinggi dibandingkan triwulan IV 2025 yang tumbuh sebesar 5,46 persen (yoy). Kondisi ini berada sedikit di atas pertumbuhan nasional yang tumbuh sebesar 5,61 persen
(yoy).

Secara spasial, tiga kabupaten/kota dengan kontribusi PDRB tertinggi di Kalimantan Selatan adalah Kota Banjarmasin (Rp49,47 triliun), Kabupaten Kotabaru (Rp40,06 triliun), dan Kabupaten Tanah Bumbu (Rp38,33 triliun), yang ketiganya mencatat pertumbuhan ekonomi di atas rerata provinsi. Pertumbuhan ekonomi Kalimantan Selatan secara keseluruhan ditopang oleh kuatnya konsumsi rumah tangga serta surplus ekspor terhadap impor barang dan jasa yang semakin melebar pada tahun 2025. Perkembangan surplus tersebut terjadi seiring dengan penurunan nilai impor yang lebih signifikan daripada kontraksi pada sektor ekspor.

Dari sisi sektoral, PDRB Kalimantan Selatan masih didominasi sektor Pertambangan dengan porsi 27,12 persen atau senilai Rp20,56 triliun dan industri pengolahan sebesar 12,31 persen atau senilai Rp6,93 triliun, meskipun laju pertumbuhannya tercatat melambat dibandingkan tahun 2025. Adapun pertumbuhan tertinggi dicatatkan oleh Lapangan Usaha (LU) Akomodasi dan Makan Minum sebesar 13,12 persen yoy) dan LU Jasa Lainnya tumbuh sebesar 8,71 persen (yoy).

Perkembangan Sektor Perbankan

Kinerja intermediasi perbankan masih menunjukkan pertumbuhan positif dengan likuiditas yang memadai dan profil risiko yang terjaga. Pada Maret 2026, kredit tumbuh 5,89 persen yoy menjadi sebesar Rp83,14 triliun dan kualitas kredit tetap terjaga dengan rasio NPL gross berada di angka 2,57 persen.

Berdasarkan jenis penggunaan, Kredit Investasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi yaitu sebesar 27,75 persen, diikuti oleh Kredit Konsumsi tumbuh sebesar 6,03 persen, sementara Kredit Modal Kerja masih perlu perbaikan dengan kondisi terkontraksi sebesar 9,46 persen. Penyaluran Kredit Investasi tertinggi terletak di Kota Banjarmasin (Rp19,56 triliun) dan diikuti oleh Kabupaten Tanah Bumbu (Rp1,02 triliun). Proporsi penyaluran kredit UMKM terhadap keseluruhan kredit di Kalimantan Selatan yaitu sebesar 27,14 persen. Sektor UMKM yang banyak menerima pembiayaan yaitu Perdagangan Besar dan Eceran sebesar Rp8,65 triliun.

Sementara itu, peningkatan Aset di Kalimantan Selatan tercatat sebesar 3,91 persen yoy, sedangkan Dana Pihak Ketiga (DPK) naik sebesar 4,06 persen yoy, dan Kredit bertumbuh 5,89 persen yoy. Pertumbuhan DPK ditopang oleh giro yang tumbuh sebesar 26,87 persen yoy menjadi Rp29,78 triliun dan tabungan yang tumbuh sebesar 5,53 persen yoy menjadi Rp46,84 triliun, sedangkan deposito terkontraksi sebesar 18,41 persen yoy menjadi Rp21,83 triliun. Tabungan mendominasi DPK dengan porsi sebesar 47,58persen, diikuti giro 30,25persen, dan deposito 22,18persen. Secara spasial, pangsa DPK terbesar berada di Kota Banjarmasin (Rp61,31 triliun), atau mengambil porsi sebesar 62,28 persen.

Indikator kinerja perbankan syariah tercatat mengalami penyesuaian. Aset tercatat telah mengalami perbaikan meskipun masih terkontraksi sebesar 9,43 persen yoy atau menjadi Rp11,07 triliun (sebelumnya terkontraksi 12,97 persen), sedangkan kredit meningkat sebanyak 12,86 persen yoy atau menjadi Rp9,86 triliun. Sementara DPK mengalami kontraksi sebesar 4,12 persen yoy. Meskipun demikian, likuiditas perbankan syariah terjaga di angka 103,60 persen dan NPF gross di bawah threshold yaitu 1,92 persen.

Perkembangan Sektor Pasar Modal

Kinerja pasar modal di wilayah Kalimantan Selatan pada Maret 2026 melanjutkan tren positif. Nilai transaksi saham tercatat sebesar Rp 2,01 triliun. Peningkatan ini sejalan dengan jumlah Single Investor Identification (SID) saham yang tumbuh konsisten hingga mencapai 126.451 investor (tumbuh sebesar 51,47 persen yoy).

Perkembangan Industri Keuangan Non-Bank (IKNB)

Secara keseluruhan, sektor IKNB mencatatkan pertumbuhan positif. Posisi Maret 2026, piutang pembiayaan yang disalurkan oleh Perusahaan Pembiayaan sebesar Rp17,99 triliun mengalami peningkatan sebesar 52,94 persen yoy. Sektor Pertambangan dan Penggalian mendapatkan penyaluran pembiayaan tertinggi, yaitu sebanyak Rp3,90 triliun, diikuti oleh Aktivitas Penyewaan Dan Sewa Guna Usaha Tanpa Hak Opsi, Ketenagakerjaan, Agen Perjalanan Dan Penunjang Usaha Lainnya sebanyak Rp2,52 triliun dan Perdagangan Besar dan Eceran sebanyak Rp2,03 triliun.

Pembiayaan modal ventura pada Maret 2026 tumbuh sebesar 0,08 persen yoy, dengan nilai pembiayaan tercatat sebesar Rp97 miliar dan NPF terjaga pada 2,18 persen.

Aset bersih Dana Pensiun tumbuh sebesar 7,42 persen yoy atau menjadi sebanyak Rp374 miliar.
Pada industri Pinjaman Daring (Pindar) outstanding pembiayaan pada Desember
2025 meningkat signifikan, yaitu tumbuh 31,71 persen yoy atau menjadi Rp1,112 triliun. Tingkat risiko kredit secara agregat (TWP90) berada di angka 2,08 persen. Sementara itu, industri pergadaian posisi Mei 2025 tumbuh sebesar 61,59 persen yoy atau meningkat menjadi Rp912 miliar dengan tingkat risiko kredit terjaga.

Perkembangan Pengawasan Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen (PEPK)

Jumlah kegiatan edukasi yang dilaksanakan oleh Kantor OJK Provinsi Kalimantan Selatan sejak Januari s.d. 18 Mei 2026 sebanyak 28 kegiatan. Seluruh kegiatan tersebut diikuti sebanyak 2.819 peserta, dengan dua materi utama mengenai Waspada Penawaran Jasa Keuangan Ilegal dan Waspada Kejahatan Digital.
Dari sisi Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), layanan yang diterima dan telah diproses oleh OJK sejak Januari s.d. 18 Mei 2026, sebanyak 7.316 permintaan, dengan 63,55 persen merupakan permintaan melalui walk-in.

Sementara dari sisi Pengaduan Konsumen, OJK Provinsi Kalimantan Selatan sejak 1 Januari s.d. 18 Mei 2026 telah menerima 2.492 pengaduan, pertanyaan, dan informasi melalui APPK (Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen). Pengaduan paling banyak yaitu terkait fintech peer-to-peer lending (47,73 persen), Bank Umum (18,26 persen), dan Perusahaan Pembiayaan (11,88 persen). Jenis permasalahan terbanyak yaitu mengenai SLIK (23,11 persen), Perilaku Petugas Penagihan (21,55 persen), dan Fraud Eksternal (Penipuan, Pembobolan Rekening, Skimming, Cyber Crime) (8,51 persen). Seluruh pengaduan telah ditindaklanjuti, dengan rincian 67,5 persen telah selesai, 17,50 persen sedang dalam penanganan oleh PUJK, 1,59 persen sedang dalam penanganan LAPS, dan 13,41 persen menunggu tanggapan konsumen.

OJK Provinsi Kalimantan Selatan senantiasa mendorong lembaga jasa keuangan di daerah lebih kontributif untuk mendukung perekonomian di daerah.(ojk/elh)

Muhammad Elhami

“sesobek catatan di antara perjalanan meraih yang kekal dan memaknai kesementaraan; semacam solilokui untuk saling mengingatkan, saling menguatkan, berbagi keresahan dan kegetiran, keindahan dan kebahagiaan, agar hidup menjadi cukup berharga untuk tidak begitu saja dilewatkan”

Lebih baru Lebih lama