![]() |
| SAMPAH JADI LISTRIK: Menteri KLH Jumhur Hidayat sebut 114 kota/kabupaten di Indonesia mulai adopsi teknologi waste to electricity demi perangi emisi gas metana yang merusak ozon - Foto Net. |
TOPRILIS.COM, JAKARTA - Pemerintah Indonesia tengah mempercepat pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi energi dan listrik (waste to energy) di sekitar 114 kota dan kabupaten. Langkah masif ini diambil sebagai strategi utama menekan emisi gas metana yang kian mengancam lingkungan.
Rencana besar tersebut diungkapkan oleh Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Jumhur Hidayat, usai peluncuran proyek ASEAN-Korea Cooperation for Methane Mitigation (AKCMM) di Hotel Le Meridien, Jakarta Pusat, Kamis (21/5/2026).
“Ada sekitar 34 daerah aglomerasi yang akan menggunakan waste to energy atau waste to electricity. Hal itu kira-kira mencakup sekitar 113 sampai 114 kota dan kabupaten di Indonesia,” kata Jumhur.
Jumhur menjelaskan, intervensi terhadap emisi metana menjadi prioritas mendesak lantaran daya rusaknya yang jauh lebih fatal bagi atmosfer bumi jika dibandingkan dengan polutan populer lainnya.
“Gas metan ini bisa merusak ozon 28 sampai 30-an kali lebih besar ketimbang karbon dioksida,” tegasnya.
Menurut data KLH, produsen utama emisi metana di dalam negeri berasal dari tempat pembuangan sampah terbuka (open dumping) serta limbah cair pabrik kelapa sawit (Palm Oil Mill Effluent/POME). Guna mengatasinya, pemerintah mulai bergerak cepat menggandeng sejumlah perusahaan untuk mengonversi sampah menjadi sumber listrik baru.
Sejumlah kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Makassar kini dilaporkan tengah menggeber proyek tersebut. Bahkan, salah satu kota di Sumatra dipastikan akan menjadi yang tercepat dalam mengoperasikannya.
“Oktober nanti di Palembang sudah bisa beroperasi itu waste to electricity-nya. Jadi di beberapa tempat sedang berlangsung,” ungkap Jumhur.(liputan6.com/elh)
Tags
Nasional
