TOPRILIS.COM, JAKARTA - Menteri Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Maman Abdurrahman menyatakan lonjakan harga dan kelangkaan plastik mendorong pemerintah mencari alternatif bahan baku, termasuk dari singkong, rumput laut, hingga bambu.
Maman menjelaskan kenaikan harga plastik tak lepas dari gangguan rantai pasok global akibat konflik geopolitik, khususnya di jalur distribusi utama bahan baku plastik.
"Nafta yang menjadi bahan baku utama plastik sebagian besar berasal dari negara-negara Timur Tengah. Kondisi konflik geopolitik ini menghambat distribusi nafta dan mendorong kenaikan harga plastik secara signifikan," ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (9/4).
Ia menyebut ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan baku plastik masih tinggi, mencapai 55 persen. Dari jumlah tersebut, sekitar 70 persen distribusi melewati jalur Selat Hormuz yang saat ini terdampak konflik, sehingga pasokan menjadi terganggu dan biaya produksi meningkat.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada pelaku usaha, terutama UMKM di sektor makanan dan minuman yang masih sangat bergantung pada kemasan plastik.
Data industri menunjukkan kelangkaan bahan baku telah menekan kapasitas produksi plastik, bahkan menyebabkan sebagian lini produksi terhenti. Di tingkat pelaku usaha kecil, tekanan biaya ini berujung pada penurunan omzet hingga sekitar 50 persen.
Menghadapi situasi tersebut, pemerintah menyiapkan langkah jangka pendek dengan membuka alternatif pasokan bahan baku dari negara-negara di luar kawasan konflik, seperti Afrika, India, dan Amerika. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keberlanjutan produksi dalam waktu dekat.
Di sisi lain, Maman juga menyiapkan strategi jangka panjang dengan mendorong penggunaan bahan baku alternatif berbasis sumber daya lokal.
"Ini bukan hanya solusi atas krisis pasokan, tetapi juga peluang untuk membangun industri hijau berbasis potensi lokal," kata dia lebih lanjut.
Ia menambahkan bahan seperti rumput laut dan singkong sebenarnya telah mulai dimanfaatkan sebagai bahan baku bioplastik. Namun, keterbatasan permintaan membuat biaya produksi masih relatif tinggi.
"Jika kebijakan diarahkan untuk memperkuat substitusi bahan baku dari nafta ke rumput laut, maka permintaan akan tumbuh dan biaya produksi dapat ditekan," ujarnya.
Menurut Maman, pengembangan bahan baku alternatif tidak hanya bertujuan mengurangi ketergantungan impor, tetapi juga membuka peluang usaha baru bagi UMKM dan memperkuat ekosistem industri berbasis sumber daya domestik.
Sejumlah pelaku usaha kecil bahkan telah memproduksi plastik berbasis rumput laut dan menembus pasar ekspor.
Pemerintah berencana memperkuat dukungan agar produksi dapat ditingkatkan dan mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri.
Selain itu, pemerintah juga mengkaji sejumlah kebijakan pendukung, mulai dari subsidi penggunaan bioplastik, penguatan rumah kemasan bersama, hingga pelatihan dan pendampingan bagi pelaku usaha.
Upaya ini dilakukan bersamaan dengan dorongan kepada masyarakat untuk mengurangi penggunaan plastik dan meningkatkan praktik daur ulang.(CNN Indonesia/elh)
Tags
Bisnis
