TOPRILIS.COM, KALSEL - Mahasiswa penerima Beasiswa Utusan Daerah (BUD) PT Adaro Indonesia dari UPN Veteran Yogyakarta dan IPB University mengikuti workshop peningkatan kapasitas public speaking. Kegiatan ini digelar pada Sabtu, 31 Januari 2026, di Bumi Gumati, Bogor.
Workshop public speaking tahun ini merupakan materi lanjutan dari pelatihan serupa yang sebelumnya dilaksanakan di Yogyakarta. Materi disampaikan oleh Jainal Ilmi, atau akrab disapa Mas Jay, dari Catatan Psikolog.
Kegiatan ini diikuti mahasiswa BUD angkatan 2023–2025. Selain sesi workshop, kegiatan juga dilengkapi dengan coaching dan konseling untuk menggali karakter serta mental mahasiswa.
Penting untuk Akademik dan Dunia Kerja
Reifan, mahasiswa Teknik Lingkungan UPN Veteran Yogyakarta asal Kabupaten Tabalong, menyebut materi public speaking sangat bermanfaat untuk aktivitas perkuliahan.
“Di perkuliahan pasti banyak tugas presentasi. Terus ada juga pengabdian masyarakat yang perlu komunikasi yang bagus dengan masyarakat,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemampuan komunikasi juga sangat dibutuhkan setelah lulus kuliah. “Untuk di pekerjaan pastinya kepakai banget buat komunikasi antar tim dan kerja sama,” kata Reifan.
Reifan mengaku pernah mengalami gugup saat presentasi, terutama pada semester awal perkuliahan.
“Waktu mahasiswa baru, pas presentasi menghadap dosen itu gugup banget. Kadang omongnya jadi belibet,” ucapnya.
Menurut Reifan, materi workshop membantunya memahami cara mengatasi rasa gugup. “Di acara workshop tadi diajarin gimana cara ngatasin-ngatasinnya. Banyak dapat insight buat ke depannya,” katanya.
Materi Relevan dan Praktis
Hal serupa disampaikan Alifpia, mahasiswi Akuntansi UPN Veteran Yogyakarta asal Tabalong. Ia menilai materi workshop sangat relevan dengan kebutuhan mahasiswa.
“Ini sangat berguna banget. Aku aktif organisasi dan juga ngurus UMKM. Jadi public speaking itu kepakai banget,” ujarnya.
Menurut Alifpia, materi tentang pengelolaan rasa gugup sangat dekat dengan pengalaman yang sering ia alami.
“Waktu gugup disarankan tarik napas. Tips-tipsnya relevan dan memang sering aku pakai pas presentasi,” katanya.
Alifpia juga menyoroti materi tentang penyusunan alur berbicara.
“Ada cara ngatur opening, body, sampai closing. Itu aku suka banget. Ditambah diskusi kelompok, jadi dapat pandangan baru dari teman-teman,” ucapnya.
Teknik 5P Melawan Rasa Takut
Dalam materinya, Jainal Ilmi memaparkan konsep 5P untuk melawan rasa takut saat public speaking. Salah satunya adalah penyesuaian diri, baik secara fisik maupun mental, dengan datang lebih awal dan membayangkan kondisi panggung.
Ia juga menjelaskan teknik pernapasan 4-7-8 untuk mengatasi gugup. Teknik ini dilakukan dengan menarik napas selama empat detik, menahan tujuh detik, dan menghembuskan perlahan lewat mulut delapan detik.
Selain itu, peserta diajak memahami perubahan bahasa tubuh. Menurut Jainal, arah pandangan mata dapat memengaruhi emosi.
“Saat melihat ke bawah, emosi cenderung murung. Saat melihat ke atas, lebih optimis,” ujarnya.
Mahasiswa juga diajak melakukan latihan dengan membicarakan materi yang berbeda-beda di hadapan rekan satu tim dalam waktu singkat. Satu menit menulis materi, tiga menit untuk berbicara. Teman yang mendengarkan nantinya akan menilai seperti apa penampilan berbicara temannya.
“Ini dilakukan untuk melatih keberanian dan kepercayaan diri,” kata Jainal.
Bangun Karakter, Bukan Hanya Nilai
CSR Supervisor Bidang Pendidikan PT Adaro Indonesia, Muhammad Zulfadeli Rachman, menegaskan bahwa program BUD tidak hanya menekankan aspek akademik.
“Kami tidak ingin mahasiswa hanya punya kecerdasan akademik, tapi juga mampu menyuarakan dan mengekspresikan ilmunya lewat public speaking,” ujarnya.
Menurutnya, banyak mahasiswa memiliki kemampuan akademik yang baik, namun kesulitan menyampaikan gagasan saat berbicara di forum publik.
“Sayang kalau ilmunya cuma ada di kepala, tapi tidak bisa diutarakan,” katanya.
Zulfadeli menjelaskan, dalam tiga tahun terakhir seleksi BUD dilengkapi dengan psikotes untuk menilai IQ dan EQ calon penerima beasiswa.
“Selain kecerdasan akademik, kecerdasan emosional juga harus digali,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemampuan keluar dari keterpurukan juga menjadi aspek penting.
“Kalau kemampuan keluar dari keterpurukan rendah, itu berbahaya. Bisa berdampak ke akademik dan kehidupan sosial,” katanya.
Melalui workshop dan sesi konseling, Adaro berharap mahasiswa mampu mengenali karakter diri dan membangun ketangguhan mental.
“Beasiswa tidak sekadar kita memberikan pembiayaan, tapi membangun karakter. Saya berharap setiap tahun ada kegiatan ini biar mereka bisa mengenali jati diri seperti apa,” pungkasnya.(PT Adaro Indonesia/elh)



