![]() |
| SRIKANDI PENGAMANAN: Lahir sebagai perempuan, empat sekawan ini jadi garda terdepan keamanan - Foto Dok Adaro Indonesia. |
TOPRILIS.COM, KALSEL - Tak salah jika menyebut empat perempuan muda asal Tabalong ini sebagai srikandi pengamanan. Mereka berdiri tegap, siap siaga menjaga keamanan area tambang.
Tugas yang mereka emban tak ringan. Area operasional tambang menuntut kedisiplinan, kewaspadaan, dan tanggung jawab besar.
Namun, bagi keempatnya, pengalaman ini menjadi pintu baru menuju jalan karir yang membanggakan.
Kisah mereka bermula dari pelatihan satuan pengamanan yang diadakan Disnaker Tabalong tahun 2024 lalu. Selama sepuluh hari bersama, mereka lulus, dan mendapat sertifikat Garda Pratama.
Bekal ini yang membawa kebersamaan mereka lebih jauh.
"Setelah pelatihan sepuluh hari, tidak lama ada penerimaan sekuriti A5 di operasional Adaro," cerita Risna (20), perempuan asal Desa Walangkir, Kecamatan Tanta.
Awalnya, cita-cita menjadi penjaga keamanan tidak pernah terlintas. Namun, kesempatan itu ia lihat sebagai peluang yang patut dicoba.
Saat seleksi, Risna mesti bersaing dengan 15 orang lainnya yang mendaftar posisi serupa, sekuriti wanita atau sekwan.
Modal pelatihan yang telah dijalani, ia terapkan dengan maksimal saat seleksi. Menurutnya, percaya diri jadi kunci, dengan tetap berusaha mengikuti setiap seleksi.
"Persiapan fisik betul-betul dijaga, stamina, juga kesehatan," ujarnya.
Dari seleksi ketat itu, terpilihlah empat perempuan terbaik, Risna, Leoni, Alpia, dan Sofiah.
"Ini pekerjaan pertama saya setelah selesai sekolah," ungkap Risna.
Mereka bekerja secara bergantian. Seminggu di lapangan, seminggu di resepsionis kantor.
"Di pos kami memeriksa mine permit, sarana, dan komisioning, memastikan kelengkapan P2H sebelum kendaraan memasuki jalan hauling," jelasnya.
Pemeriksaan ini jadi hal penting sebab tidak sembarang mobil bisa bebas memasuki jalan hauling yang merupakan jalan angkutan tambang batubara.
Barista dan Titik Balik
Dari Risna, kisah berlanjut ke Leoni (23) asal Desa Kahung, Kecamatan Upau. Bagi perempuan yang dulu bekerja sebagai barista ini, pekerjaan sebagai sekwan menjadi titik balik dalam hidupnya.
“Waktu ikut pelatihan Garda Pratama, saya memutuskan berhenti kerja di kafe. Setelah pelatihan selesai, nunggu sekitar satu setengah bulan, langsung ada panggilan pendaftaran sekwan,” ceritanya.
Kini, Leoni menikmati pengalaman baru yang jauh berbeda dari pekerjaannya dulu.
“Kami bisa ikut sidak, patroli, masuk ke area yang belum tentu semua orang bisa masuk. Itu pengalaman menarik,” katanya.
Meski sibuk menjaga keamanan, Leoni tetap menyalurkan hobinya bermain voli dan rutin menyisihkan penghasilan untuk membangun masa depan.
“Sekarang sedang mulai bangun rumah dari hasil sendiri,” tuturnya.
Kerja dan Kuliah
Berbeda dengan Leoni, Alpia (20) dari Desa Wayau, Kecamatan Tanjung, tetap menyempatkan diri belajar di tengah kesibukannya menjaga keamanan operasional tambang.
Saat ini, perempuan yang memiliki hobi menggambar sketsa, menempuh kuliah di jurusan Sistem Informasi semester 4 di Universitas Terbuka.
Baginya, kuliah jadi langkah awal untuk menggapai cita-cita menjadi polwan.
“Saya ingin jadi polwan lewat jalur SIPSS, karena harus sarjana,” ungkapnya.
Rutinitasnya padat, tapi ia punya cara tersendiri agar tetap seimbang.
“Setiap hari harus selesaikan tugas satu mata kuliah. Pulang kerja langsung bersih-bersih, lanjut ngerjain tugas meski kadang ngantuk,” katanya sambil tertawa kecil.
Gajinya pun ia gunakan untuk membayar biaya kuliah.
Ingin Berangkatkan Orang Tua Umroh
Sementara Sofiah (22) dari Kelua, anak bungsu dari empat bersaudara, memandang pekerjaan ini sebagai amanah. Sebelum menjadi sekwan, ia sempat mengajar ekstrakurikuler di sekolah.
Masa pelatihan Garda Pratama masih diingatnya sebagai pengalaman berat namun berharga.
“Latihan fisik itu berat, tapi menyenangkan. Kami juga belajar PBB dan bela diri karate,” katanya.
Kini, tugasnya adalah menjaga pos dan patroli di area tambang.
“Kami memastikan tidak ada hal mencurigakan, dan semua prosedur keamanan dipatuhi,” jelasnya.
Sofiah punya cita-cita sederhana namun mulia, “Saya ingin bisa memberangkatkan orang tua umroh.”
Dedy Gunawan, Security Section Head PT Adaro Indonesia mengatakan, bahwa peran sekwan di lingkungan operasional tambang sangat dibutuhkan, baik dari sisi operasional maupun pelayanan.
“Kami menempatkan sekwan di gate depan supaya memberi kesan bahwa sekuriti lebih ramah dan humanis dalam bersikap, tetapi tetap tegas,” jelasnya.(PT Adaro Indonesia/elh)
