AMAL SALIH, Inovasi SDN Hamarung 2 Bangun Budaya Peduli Lingkungan Sejak Dini

PEDULI LINGKUNGAN: SD Negeri Hamarung 2 berupaya menanamkan kesadaran, tanggung jawab, dan kemandirian peserta didik melalui inovasi AMAL SALIH (Sayangi Lingkungan Sekolah) - Foto Net.

TOPRILIS.COM, KALSEL – Upaya membangun karakter peduli lingkungan tidak selalu harus dimulai dari program yang besar dan kompleks. Melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten, SD Negeri Hamarung 2 berupaya menanamkan kesadaran, tanggung jawab, dan kemandirian peserta didik melalui inovasi AMAL SALIH (Sayangi Lingkungan Sekolah).

Inovasi yang digagas oleh Purnamawati, S.Pd. ini mulai diimplementasikan pada 2 Juni 2025 dan diuji coba pada 8 Juli 2025. AMAL SALIH hadir sebagai respons terhadap kondisi masih adanya peserta didik yang perlu diingatkan untuk membuang sampah pada tempatnya, menjaga kebersihan kelas, serta merawat lingkungan sekolah.

Melalui AMAL SALIH, kegiatan menjaga kebersihan tidak lagi dipandang sebagai tugas yang dilakukan karena jadwal piket atau instruksi guru. Peserta didik didorong menjadi pelaku utama dalam menciptakan lingkungan sekolah yang bersih, sehat, nyaman, dan lestari.

Berbagai kegiatan dilakukan melalui aksi sederhana yang dekat dengan keseharian siswa, mulai dari mengambil dan memilah sampah, membersihkan kelas dan halaman sekolah, merawat tanaman, memanfaatkan kembali barang bekas, hingga saling mengingatkan untuk menjaga kebersihan dengan cara yang positif.

Inovator AMAL SALIH, Purnamawati, S.Pd., mengatakan program tersebut diarahkan untuk membangun kesadaran siswa agar kepedulian terhadap lingkungan tumbuh dari dalam diri dan tidak selalu bergantung pada perintah guru.

“Kami ingin anak-anak tidak menjaga kebersihan hanya karena diperintah atau karena sedang mendapat jadwal piket. Harapannya, melalui pembiasaan yang dilakukan secara terus-menerus, mereka mulai sadar bahwa lingkungan sekolah adalah milik bersama yang harus dijaga. Dari yang awalnya diperintah, kemudian menjadi terbiasa, tumbuh kesadaran, dan pada akhirnya mereka mampu melakukannya secara mandiri,” ujar Purnamawati, Selasa (13/10/2026).

Menurutnya, perubahan perilaku tersebut memang tidak dapat terjadi secara instan. Karena itu, guru memiliki peran penting tidak hanya memberikan arahan, tetapi juga menjadi teladan, pendamping, sekaligus memberikan apresiasi terhadap perilaku positif yang ditunjukkan peserta didik.

“Hal sederhana seperti mengambil sampah yang terlihat, merapikan kelas tanpa diminta, atau mengingatkan teman dengan cara yang baik merupakan bagian dari proses pembentukan karakter. Ketika kebiasaan-kebiasaan kecil itu dilakukan setiap hari, kami berharap kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari karakter anak-anak, bukan hanya ketika berada di sekolah, tetapi juga ketika di rumah dan di masyarakat,” tambahnya.

Keunggulan AMAL SALIH terletak pada pendekatan pembiasaan dan keteladanan. Siswa diberikan kesempatan mengambil peran dan tanggung jawab sesuai usia dan kemampuannya. Proses perubahan perilaku dirancang secara bertahap melalui pola “Diperintah, Dibiasakan, Sadar, hingga Mandiri.”

Program ini juga dirancang sederhana dan mudah diterapkan dengan memanfaatkan lingkungan serta fasilitas yang telah tersedia di sekolah. Dengan konsep tersebut, pelaksanaannya tidak memerlukan biaya besar, tetapi diarahkan untuk menghasilkan perubahan perilaku yang berkelanjutan.

AMAL SALIH bertujuan meningkatkan kemandirian dan tanggung jawab siswa, menumbuhkan kepedulian terhadap kebersihan dan kelestarian lingkungan, membentuk karakter disiplin dan gotong royong, serta membangun budaya sekolah yang bersih, aman, sehat, nyaman, dan peduli lingkungan.

Melalui penerapan program secara berkelanjutan, sekolah berharap semakin banyak siswa yang mampu menjaga kebersihan tanpa selalu menunggu arahan guru. Kebiasaan membuang dan memilah sampah, merawat tanaman dan lingkungan sekolah, serta keterlibatan seluruh warga sekolah diharapkan semakin menguat dan menjadi budaya bersama.

Bagi SDN Hamarung 2, AMAL SALIH bukan sekadar program kebersihan, tetapi menjadi bagian dari pembelajaran karakter melalui tindakan nyata. Dari langkah sederhana menjaga lingkungan sekolah, nilai kemandirian, disiplin, tanggung jawab, gotong royong, serta rasa memiliki terhadap sekolah ditanamkan kepada peserta didik sejak dini.(rls/elhami)

Muhammad Elhami

“sesobek catatan di antara perjalanan meraih yang kekal dan memaknai kesementaraan; semacam solilokui untuk saling mengingatkan, saling menguatkan, berbagi keresahan dan kegetiran, keindahan dan kebahagiaan, agar hidup menjadi cukup berharga untuk tidak begitu saja dilewatkan”

Lebih baru Lebih lama