TOPRILIS.COM, KALSEL - Upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Gunung Damar, Banjarbaru, terus dilakukan secara terpadu oleh tim gabungan lintas instansi dan sejumlah perusahaan pertambangan.
Plt. Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Kalimantan Selatan, Endarto, mengatakan penanganan karhutla di kawasan tersebut telah berlangsung lebih dari 15 hari dengan pembagian tugas yang meliputi pemadaman, pembasahan, hingga pengamanan wilayah.
Menurutnya, kawasan Gunung Damar yang menjadi wilayah penanganan memiliki luas sekitar 121,6 hektare. Sebagian besar wilayah tersebut relatif sudah berhasil diamankan dari kebakaran hebat, meskipun masih terdapat asap dan sejumlah titik api di kawasan lain di sekitar lokasi.
“Wilayah yang kita cover sekitar 121,6 hektare. Relatif sudah bisa kita amankan. Walaupun masih ada sedikit asap, tetapi untuk kebakaran hebatnya sudah tidak ada lagi,” ujar Endarto, Banjarbaru, Rabu (9/9/2026).
Ia menjelaskan, titik-titik kebakaran baru saat ini berada di luar area yang sebelumnya menjadi fokus penanganan. Karena itu, tim tetap melakukan upaya pemadaman sekaligus pembasahan untuk mencegah api kembali meluas.
“Pemadaman sifatnya langsung, begitu ada api kita padamkan. Sedangkan pembasahan menggunakan mesin-mesin pompa untuk membasahi dan merendam kawasan yang rawan terbakar,” jelasnya.
Dalam penanganannya, tim gabungan melibatkan sejumlah Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), di antaranya Satpol PP dan Damkar, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Dinas Lingkungan Hidup (LH), serta unsur terkait lainnya. Penanganan juga mendapat dukungan dari aparat keamanan, TNI, Polri, dan sejumlah perusahaan pertambangan.
Endarto menegaskan, sinergi antarinstansi menjadi salah satu kunci dalam mempercepat penanganan karhutla. Masing-masing unsur memiliki pembagian tugas, mulai dari pemadaman api, pembasahan lahan hingga menjaga kawasan yang belum terbakar.
“Kita terus berupaya, terutama menjaga wilayah yang belum terbakar. Salah satunya dengan perendaman. Kawasan yang masih hijau itu kita jaga betul supaya jangan sampai muncul titik api baru,” katanya.
Menurut Endarto, kawasan yang masih hijau harus menjadi perhatian serius karena memiliki luasan yang cukup besar. Jika kembali terbakar, maka potensi perluasan kebakaran akan semakin sulit dikendalikan.
Selain pemadaman dan pembasahan, pengaturan aliran air juga menjadi tantangan tersendiri di lapangan. Sumber air utama yang dimanfaatkan tim berasal dari embung di sekitar kawasan.
“Memang kita harus mengatur aliran air karena sumber airnya berasal dari embung. Posisi elevasi di beberapa wilayah lebih tinggi sehingga aliran air harus diatur agar sesuai dengan kebutuhan di titik-titik pemadaman,” terangnya.
Untuk mendukung pengaturan tersebut, tim melakukan pemompaan dan penyekatan pada sejumlah aliran air agar distribusi air dapat diarahkan ke kawasan yang membutuhkan. Embung juga dimanfaatkan untuk mengalirkan air menuju wilayah Tegal Arum.
Di sisi lain, keberadaan embung juga menjadi sumber air bagi operasi water bombing menggunakan helikopter. Karena itu, pengaturan debit dan aliran air harus dilakukan secara cermat agar kebutuhan pemadaman dari darat maupun udara tetap terpenuhi.
“Kalau air ini tidak diatur, alirannya akan cepat turun ke wilayah yang tidak kita inginkan. Karena itu dibantu dengan pemompaan dan dilakukan penyekatan di beberapa bagian supaya aliran air sesuai dengan yang kita harapkan,” ujarnya.
Kondisi medan juga menjadi kendala dalam proses pemadaman. Endarto menyebut, sejumlah titik memiliki akses yang cukup sulit sehingga membutuhkan selang dan peralatan pemadam dalam jumlah panjang untuk menjangkau lokasi kebakaran.
Selain itu, angin yang cukup kencang di kawasan tersebut turut meningkatkan risiko penyebaran api.
“Angin di sini cukup kencang. Ini memicu pergerakan api sehingga potensi meluasnya titik api semakin besar,” ungkapnya.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, tim terus melakukan pembasahan secara blok pada kawasan yang rawan terbakar. Tim juga melakukan normalisasi kanal-kanal untuk memperlancar aliran air yang dibutuhkan dalam proses pemadaman dan pembasahan.
Endarto berharap soliditas seluruh unsur yang terlibat dapat terus dipertahankan sehingga penanganan karhutla di kawasan Gunung Damar dan sekitarnya dapat dilakukan secara maksimal.
“Kita terus berupaya agar api tidak berkembang dan wilayah yang masih hijau tetap bisa kita pertahankan,” pungkasnya. (MC Kalsel/Rns)
Tags
Pemprov Kalsel