MOVE: Transformasi Pembelajaran Kolaboratif Hubungkan Sekolah, Industri, dan Masyarakat

Proses sidang disertasi Rabu (24/06/2026) dengan penguji tamu Sekretaris Dinas Pendidikan Jatim Dr. Suhartono, M.Pd.

Oleh: Izuddin Syarif - Guru SMKN 1 Paringin.

PENELITIAN doktoral di bidang Manajemen Pendidikan berhasil menghasilkan Model Manajemen Pembelajaran MOVE (Melayani Komunitas Via Edukasi), sebuah model manajemen pembelajaran vokasi berbasis community service yang mengintegrasikan sekolah, dunia usaha dan dunia industri (DUDI), serta masyarakat secara sistematis dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, dan pengembangan pembelajaran.


Lahirnya MOVE berangkat dari kondisi nyata di lapangan yang telah berlangsung sejak lama, yaitu
sejak sekitar 2012, ketika pembelajaran Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMKN 1 Paringin
menghadapi dua persoalan utama: rendahnya kualitas instalasi listrik di masyarakat serta
keterbatasan ruang dan fasilitas praktik di sekolah. Kondisi ini menyebabkan pembelajaran vokasi
cenderung terbatas pada simulasi di bengkel sekolah, sementara kebutuhan riil di lapangan jauh lebih kompleks dan menuntut pengalaman autentik.

Berangkat dari persoalan tersebut, muncul inisiatif Izuddin Syarif, guru Teknik Instalasi Tenaga Listrik
SMKN 1 Paringin untuk menjadikan lingkungan masyarakat sebagai ruang praktik pembelajaran
nyata, melalui kegiatan layanan instalasi, perbaikan, inspeksi, dan pemetaan kualitas instalasi listrik di rumah tangga, sekolah, kantor, tempat ibadah, dan dunia usaha. 

Implementasi MOVE di Kediri tahun 2025 yang di adaptasi oleh 3 SMK dengan layanan laundry, service AC dan pijat terapi bagi masyarakat tidak mampu.


Inisiatif ini mulai terstruktur dan diperkuat sejak pelaksanaan program DAI (Fulbright Distinguished Awards in Teaching) pada tahun 2020, ketika gagasan pembelajaran berbasis komunitas tersebut diperdalam melalui inquiry project di Arizona State University, Amerika Serikat.

Sejak kembali ke Indonesia, implementasi awal telah dimulai di Program Keahlian Teknik Instalasi
Tenaga Listrik (TITL) SMKN 1 Paringin. Praktik ini kemudian berkembang menjadi sistem pembelajaran yang lebih terarah dan konsisten, serta didokumentasikan secara sistematis sejak 2020, sehingga dapat dianalisis, direfleksikan, dan dikembangkan menjadi sebuah model manajemen pembelajaran yang utuh.

Disertasi yang disusun oleh Izuddin Syarif, guru SMKN 1 Paringin, Kalimantan Selatan, telah
dipertahankan dalam Ujian Promosi Doktor pada Rabu, 24 Juni 2026, di Ruang Sidang Disertasi
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Malang. Sidang dipimpin oleh Dr. Ahmad Yusuf Sobri, S.Sos., M.Pd., Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan, dengan dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. H. A. Supriyanto, M.Pd., M.Si. (Ketua Dewan Penguji/Pembimbing I), Prof. Dr. H. Syamsul Hadi, M.Pd., M.Ed. (Pembimbing II), Prof. Dr. H. Asep Sunandar, S.Pd., M.AP. (Pembimbing III), Prof. Dr. Raden Bambang Sumarsono, S.Pd., M.Pd. (Penguji Bidang Studi), Dr. Mustiningsih, M.Pd. (Penguji Bidang Pendidikan), serta Dr. Suhartono, M.Pd., Sekretaris Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Timur, sebagai Penguji Tamu.

Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) untuk mengonstruksi
praktik lapangan menjadi model manajemen pembelajaran yang sistematis, lengkap dengan
perangkat implementasi, instrumen evaluasi, serta mekanisme pengendalian mutu.

Implementasi MOVE di SMKN 2 Marabahan 2025.


Sebagai model manajemen pembelajaran, MOVE menempatkan masyarakat sebagai konteks belajar
autentik, industri sebagai validator kompetensi sekaligus mitra supervisi teknis, dan sekolah sebagai pengelola utama proses pembelajaran. 

Model ini dibangun atas empat karakteristik utama, yaitu Multi-stakeholder Collaboration, Outcome-based and Authentic Assessment, Vocational Contextual Learning, serta Evaluation and Continuous Feedback, yang membentuk siklus
manajemen pembelajaran berkelanjutan.

Perkembangan MOVE menunjukkan bahwa model ini tidak hanya lahir dari praktik lapangan, tetapi
juga memiliki daya replikasi dan adaptasi yang kuat. Sejak Mei 2025, model ini mulai direplikasi
pada empat SMK di Kalimantan Selatan yang memiliki Program Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik. 

Implementasi MOVE di lingkungan masyarakat SMKN 1 Paringin.


Replikasi dilakukan dengan menjaga prinsip utama MOVE, terutama dalam hal identifikasi kebutuhan masyarakat, pelibatan industri, pelaksanaan pembelajaran berbasis layanan, serta evaluasi autentik.

Selanjutnya, hingga tahun 2026, MOVE juga telah mengalami adaptasi pada tiga SMK di Kediri, Jawa
Timur, dengan penyesuaian pada karakteristik program keahlian masing-masing, yaitu layanan
laundry, perawatan dan servis AC, serta pijat terapi. 

Temuan ini memperkuat bahwa yang direplikasi bukan bentuk layanannya, tetapi sistem manajemen pembelajaran yang menghubungkan proses belajar dengan kebutuhan nyata masyarakat.

Hingga 20 Juni 2026, implementasi MOVE telah melibatkan 806 siswa, menghasilkan 285 proyek
layanan, serta menjangkau 1.605 titik layanan di 45 kecamatan di Kalimantan Selatan, Kalimantan
Tengah, dan Jawa Timur. 

Bersama 6 SMK di Kediri Jatim sebagai implementor MOVE 2026.


Layanan tersebut mencakup instalasi dan perbaikan listrik, pemetaan instalasi, perawatan AC, layanan pijat terapi, hingga layanan laundry sebagai bentuk adaptasi lintas kompetensi.

Penelitian ini memberikan kontribusi baru bagi pengembangan ilmu Manajemen Pendidikan,
khususnya dalam menunjukkan bahwa model manajemen pembelajaran berbasis community
service dapat lahir dari persoalan nyata, diperkuat melalui pengalaman internasional, didokumentasikan secara sistematis, direplikasi pada bidang yang sama, serta diadaptasi lintas kompetensi tanpa kehilangan esensi utamanya. 

MOVE dengan demikian menjadi model pengelolaan pembelajaran vokasi yang lebih kontekstual, adaptif, dan berdampak langsung bagi masyarakat.(*)

Muhammad Elhami

“sesobek catatan di antara perjalanan meraih yang kekal dan memaknai kesementaraan; semacam solilokui untuk saling mengingatkan, saling menguatkan, berbagi keresahan dan kegetiran, keindahan dan kebahagiaan, agar hidup menjadi cukup berharga untuk tidak begitu saja dilewatkan”

Lebih baru Lebih lama