![]() |
| LPG NONSUBSIDI: PT Pertamina Patra Niaga menyesuaikan harga LPG nonsubsidi 12 kilogram sebesar Rp 228 ribu per tabung, dari sebelumnya Rp 192 ribu - Foto Net. |
TOPRILIS.COM, JAKARTA - PT Pertamina Patra Niaga menyesuaikan harga LPG nonsubsidi 12 kilogram sebesar Rp 228 ribu per tabung, dari sebelumnya Rp 192 ribu.
Kenaikan gas LPG 12 kilogram ini persentase naiknya sebesar 18,75 persen.
Kenaikan harga LPG tersebut yang pertama kalinya sejak 2023.
Dikutip dari laman resmi Pertamina Patra Niaga, Minggu (19/4) harga Rp 228 ribu untuk LPG 12 kilogram berlaku di Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
Untuk provinsi lainnya juga mengalami penyesuaian harga berdasarkan biaya distribusi menuju wilayah masing-masing.
Kemudian, harga LPG nonsubsidi jenis 5,5 kilogram juga mengalami peningkatan harga sebesar 18,89 persen, dari Rp 90 ribu per tabung menjadi Rp 107 ribu per tabung.
Kenaikan harga itu untuk wilayah Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, dan Nusa Tenggara Barat.
Penyesuaian harga ini mulai berlaku per 18 April 2026.
Penyesuaian harga tersebut merupakan kali pertamanya sejak November 2023.
Pada November 2023, Pertamina menurunkan harga LPG 12 kilogram menjadi Rp 192.000 per tabung atau turun sebesar Rp 12.000 per tabungnya.
Sebelumnya, Wakil Ketua MPR Eddy Soeparno menyampaikan harga LPG turut dipengaruhi oleh harga minyak yang kian meroket.
Harga rata-rata minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) pada Maret 2026 ditetapkan sebesar USD 102,26 per barel, naik USD 33,47 per barel dibandingkan Februari.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Laode Sulaeman menyampaikan lonjakan ICP tidak terlepas dari dinamika geopolitik global yang memanas sepanjang Maret 2026.
Lebih lanjut, Laode menjelaskan kenaikan harga minyak mentah global dipicu oleh eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran, yang berdampak langsung terhadap pasokan energi dunia.
Salah satu faktor utama adalah terganggunya jalur distribusi energi global termasuk penghentian pelayaran melalui Selat Hormuz yang selama ini menjadi jalur sekitar 20 persen pasokan minyak dunia.
Selain itu, berbagai serangan terhadap fasilitas energi di kawasan Timur Tengah turut memperburuk kondisi pasokan.(jpnn.com/elh)
Tags
Bisnis
