![]() |
| PPN TIKET: Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen untuk tiket pesawat kelas ekonomi akan ditanggung pemerintah selama dua bulan - Foto Net. |
TOPRILIS.COM, JAKARTA - Pemerintah mengambil langkah cepat untuk meredam lonjakan harga tiket pesawat domestik. Melalui kebijakan terbaru, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11 persen untuk tiket pesawat kelas ekonomi akan ditanggung pemerintah selama dua bulan.
"PPN ditanggung pemerintah itu 11 persen untuk tiket angkutan udara niaga berjadwal di dalam negeri kelas ekonomi," ujar Airlangga, dikutip dari tayangan Newsline Metro TV, Kamis 16 April 2026.
Kebijakan ini diumumkan dalam konferensi pers di Jakarta pada 6 April 2026, sebagai respons atas kenaikan tajam harga avtur global yang berdampak langsung pada tarif penerbangan.
Pemerintah menyiapkan dukungan fiskal sebesar Rp1,3 triliun per bulan, sehingga total subsidi mencapai Rp2,6 triliun untuk periode dua bulan. Langkah ini ditujukan untuk menjaga kenaikan harga tiket tetap terkendali di kisaran 9 hingga 13 persen.
"Nah dengan perhitungan tersebut jumlah subsidi yang kita berikan oleh pemerintah itu sekitar Rp1,3 triliun," kata Airlangga.
Lonjakan harga tiket pesawat tidak lepas dari kenaikan harga bahan bakar pesawat (avtur) di pasar global. Data menunjukkan, harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta per 1 April 2026 mencapai Rp23.551 per liter.
Angka tersebut memberikan tekanan signifikan bagi maskapai, mengingat avtur menyumbang sekitar 40 persen dari total biaya operasional penerbangan. Fluktuasi harga bahan bakar pun menjadi faktor utama yang menentukan tarif tiket di dalam negeri.
Selain kebijakan PPN ditanggung pemerintah (DTP), pemerintah juga menerapkan skema fuel surcharge sebagai bagian dari paket kebijakan. Kedua kebijakan ini akan berlaku selama dua bulan dan akan terus dievaluasi.
Evaluasi dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi global, termasuk dinamika geopolitik dan potensi konflik di kawasan Timur Tengah yang berpengaruh terhadap harga energi dunia.
"Kita akan terus evaluasi apakah geopolitik ataupun perang di Timur Tengah masih tetap berlanjut," ucap Airlangga.(metrotvnews.com/elh)
Tags
Bisnis
