Kemendukbangga Minta Masyarakat Tak Lagi Normalisasi Candaan Seksual

CANDAAN SEKSUAL: Kemendukbangga/BKKBN meminta masyarakat untuk tidak lagi menormalisasi candaan seksual yang merendahkan perempuan tetapi selama ini dianggap wajar. Padahal hal itu tidak boleh dilakukan - Foto Net.

TOPRILIS.COM, JAKARTA - Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (Kemendukbangga/BKKBN) meminta masyarakat untuk tidak lagi menormalisasi candaan seksual yang merendahkan perempuan tetapi selama ini dianggap wajar. Padahal hal itu tidak boleh dilakukan.

Hal itu disampaikan Sekretaris Kemendukbangga/Sekretaris Utama BKKBN Budi Setiyono menanggapi kasus pelecehan seksual dalam grup pesan singkat mahasiswa di lingkungan Fakultas Hukum Universitas Indonesia (FHUI).

"Candaan seksual sering dianggap wajar, padahal, seharusnya tidak boleh dilakukan. Ini terjadi seringkali karena tekanan kelompok, yang menyebabkan individu cenderung mengikuti perilaku grup demi diterima teman sebayanya," kata Budi dikutip dari Antara, Rabu, 15 April 2026.

Budi menegaskan, kejadian itu menjadi pengingat penting bahwa kekerasan seksual tidak selalu terjadi secara fisik. Ruang digital, termasuk percakapan privat, dapat menjadi medium yang memperkuat budaya pelecehan seksual jika tidak disikapi secara serius dan konstruktif.

"Percakapan bernuansa seksual yang merendahkan, mengobjektifikasi, atau mengandung kekerasan simbolik terhadap individu bukan sekadar candaan, melainkan justru menciptakan lingkungan yang tidak aman bagi komunitas luas, terutama bagi perempuan," ungkap Budi.

Menurut Budi, menormalisasi kekerasan seksual dalam kehidupan sehari-hari berpotensi untuk mendorong dan berkembang menjadi tindakan riil di dunia nyata.

"Ruang digital bukan ruang kosong tapi dapat merefleksikan pola interaksi sosial yang terjadi. Apa yang dikatakan di dalamnya bisa jadi mencerminkan nilai, sikap, dan potensi perilaku di dunia nyata," sebut Budi.

Budi mengemukakan, pelecehan seksual, termasuk dalam bentuk digital, dapat menimbulkan tekanan psikologis, kecemasan, hingga trauma bagi korban.

"Lebih luas, hal ini dapat merusak integritas lingkungan akademik yang seharusnya menjunjung tinggi etika, kesetaraan, dan penghormatan terhadap martabat manusia," ucap Budi.

Oleh karena itu, ia menekankan kepada semua pihak harus bergerak menanggulangi fenomena seperti ini. Sehingga, tindakan pelecehan hingga kekerasan seksual tidak berkembang.(metrotvnews.com/elh)

Muhammad Elhami

“sesobek catatan di antara perjalanan meraih yang kekal dan memaknai kesementaraan; semacam solilokui untuk saling mengingatkan, saling menguatkan, berbagi keresahan dan kegetiran, keindahan dan kebahagiaan, agar hidup menjadi cukup berharga untuk tidak begitu saja dilewatkan”

Lebih baru Lebih lama