Dorong Pemanfaatan EBT, Pemerintah Komitmen Tekan Penggunaan Energi Fosil

PEMANFAATAN EBT: Pemerintah melalui Kementerian ESDM mempercepat pemanfaatan EBT melalui pembangunan PLTS 100 GW dan energi alternatif untuk kurangi impor energi fosil - Foto Net.

TOPRILIS.COM, JAKARTA - Pemerintah melalui Kementerian ESDM atau Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mempercepat pemanfaatan Energi Baru dan Terbarukan (EBT) guna mengurangi ketergantungan pada energi fosil, sekaligus untuk memperkuat ketahanan energi nasional.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan, salah satu langkah yang ditempuh pemerintah untuk pemanfaatan energi ini adalah percepatan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) hingga 100 gigawatt (GW).

"Saat ini kita punya pembangkit itu masih pakai diesel, sebagian batubara, sebagian gas. Arahan Bapak Presiden agar kita tidak tergantung pada fosil, khususnya diesel, maka diarahkan untuk kita membangun PLTS 100 gigawatt," ujar Bahlil, Jumat 13 Maret 2026, seperti dilansir Antara.

Dia mengatakan, pembangunan PLTS ini merupakan bagian dari upaya pemerintah mempercepat transisi energi dengan memanfaatkan sumber energi alternatif di dalam negeri.

Ia juga menambahkan bahwa optimalisasi pemanfaatan EBT tidak hanya melalui tenaga surya, tetapi dapat juga melalui berbagai sumber energi lain seperti panas bumi (geothermal) dan tenaga air.

Langkah ini dipilih sebagai upaya untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor fosil dari luar negeri.

"Nah, dengan kita memakai power plant seperti ini, maka kita tidak tergantung lagi dari luar negeri terhadap energi fosil," ucap Bahlil.

Selain fokus pada kemandirian energi, pengembangan EBT juga diharapkan dapat menekan emisi karbon yang menjadi upaya dalam target penurunan emisi karbon nasional dalam menghadapi perubahan iklim.
Perkuat Swasembada Energi

Sebelumnya, Presiden RI Prabowo Subianto menegaskan percepatan pengembangan EBT ini diperlukan untuk memperkuat swasembada energi di tingkat nasional.

"Kita sudah punya niat untuk swasembada energi yang kita yakin akan tercapai dalam empat tahun," kata Presiden Prabowo.

Presiden telah menugaskan Bahlil sebagai Ketua Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Transisi Energi guna mempercepat pemanfaatan energi bersih di dalam negeri. 
Selain itu, percepatan pembangunan PLTS ini  juga bertujuan untuk memperluas elektrifikasi berbasis energi terbarukan.

"Kita akan melaksanakan elektrifikasi energi terbarukan dari tenaga surya dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Kita akan membangun 100 gigawatt," kata Prabowo.

Hal ini dilakukan sebagai upaya dekarbonisasi yang dapat berjalan jika penambahan solar panel dan energi terbarukan dibarengi dengan pengurangan kapasitas fossil fuel, serta PLTU berbahan bakar diesel.

Sebagai upaya pengurangan emisi, maka kenaikannya harus diimbangi dengan penataan pembangunan dan pola konsumsi yang lebih berkelanjutan.

Potensi Energi Alternatif Indonesia

Selain pembangunan PLTS, pemerintah juga mendorong percepatan transisi energi melalui program konversi motor listrik.

Menurut Prabowo, Indonesia memiliki potensi besar berupa berbagai sumber energi alternatif seperti panas bumi, kelapa sawit, serta biomassa dari komoditas pertanian.

Di samping itu, presiden mengatakan sejumlah negara menghadapi tantangan energi yang lebih berat dibandingkan Indonesia. Sementara Indonesia memiliki potensi sumber energi alternatif yang melimpah seperti kelapa sawit, singkong, jagung, tebu, dan panas bumi.

Oleh karena itu, percepatan pembangunan PLTS 100 GW ini dimanfaatkan sebagai pengoptimalan potensi energi terbarukan yang melimpah di Indonesia.

Menurutnya, potensi ini menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mempercepat pengembangan energi bersih di masa depan, sekaligus mengurangi ketergantungan bahan bakar fosil impor.

"Kita punya geothermal yang sangat besar, kalau tidak salah, kedua cadangan terbesar di dunia yang belum dieksploitasi sepenuhnya," pungkas Prabowo.(liputan6.com/elh)

Muhammad Elhami

“sesobek catatan di antara perjalanan meraih yang kekal dan memaknai kesementaraan; semacam solilokui untuk saling mengingatkan, saling menguatkan, berbagi keresahan dan kegetiran, keindahan dan kebahagiaan, agar hidup menjadi cukup berharga untuk tidak begitu saja dilewatkan”

Lebih baru Lebih lama