Antisipasi Konflik Timur Tengah, Pemerintah Cari Sumber Impor BBM Baru

PASOKAN BBM BARU: Wakil Menteri ESDM Yuliot Tanjung mengatakan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah efisiensi dan antisipasi dampak panasnya dinamika geopolitik di Timur Tengah sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto - Foto Net.

TOPRILIS.COM, JAKARTA - Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan, pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah efisiensi dan antisipasi dampak panasnya dinamika geopolitik di Timur Tengah sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto.

Itu termasuk soal pasokan bahan bakar minyak (BBM) di Indonesia.

Menurut Yuliot, pemerintah akan mengevaluasi penggunaan energi, termasuk pemakaian BBM untuk pembangkit listrik dan pemanfaatan gas.

"Terkait arahan Presiden Prabowo Subianto kami akan melakukan langkah efisiensi. Salah satunya dengan mengevaluasi penggunaan BBM untuk pembangkit, serta penggunaan gas juga juga kami evaluasi," kata Yuliot di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin (16/3).

Selain itu, pemerintah juga akan melakukan evaluasi operasional secara detail di berbagai kegiatan yang berkaitan dengan penggunaan energi.

"Dari sisi operasional juga akan dilakukan evaluasi secara detail di setiap kegiatan terkait penggunaan energi agar efisiensi dapat ditingkatkan," ujarnya.

Dia juga menanggapi adanya antrean BBM di beberapa daerah. Menurutnya, kondisi tersebut lebih disebabkan oleh proses distribusi dan kepanikan masyarakat saat stok di SPBU sempat kosong.

"Terkait antrean BBM di beberapa daerah, karena itu proses pengiriman. Di beberapa SPBU mungkin saat habis masyarakat ada antrean, lalu melihat antrean itu muncul reaksi kecemasan," tuturnya.

Dia mengatakan bahwa setiap ada laporan antrean, pemerintah langsung berkoordinasi dengan BPH Migas agar pengiriman BBM dipercepat melalui koordinasi dengan Pertamina Patra Niaga.

"Sejauh ini beberapa kasus antrean bisa cepat ditangani," katanya.

Yuliot mengatakan ketegangan geopolitik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel berdampak pada jalur energi global, terutama di kawasan Selat Hormuz.

Kondisi tersebut memengaruhi suplai energi dunia yang hingga kini belum sepenuhnya pulih.

"Dengan adanya keterbatasan suplai secara global akibat dinamika geopolitik yang berdampak pada kawasan Selat Hormuz, kami juga melihat alternatif lain selain impor dari Timur Tengah," katanya.

Dia menyebut sekitar 20 persen suplai BBM dalam negeri berasal dari kawasan tersebut, terutama dari Arab Saudi.

Karena itu pemerintah mulai mencari sumber pasokan alternatif, termasuk membuka peluang impor dari Amerika Serikat.

Yuliot menjelaskan Indonesia telah berkomunikasi dengan operator minyak global asal Amerika, seperti ExxonMobil dan Chevron, untuk menambah suplai BBM ke dalam negeri.

"Harapannya perusahaan-perusahaan minyak global tersebut dapat membantu suplai BBM Indonesia," tuturnya.

Saat ini, proses negosiasi terkait sumber pasokan dan negara pemasok energi masih berlangsung.

Sementara itu, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia saat ini sedang melakukan kunjungan kerja ke Jepang untuk mendalami peluang kerja sama ketersediaan energi di kawasan.

"Pak Menteri lagi di Jepang pendalaman ketersediaan energi secara kawasan. Mudah-mudahan setelah beliau pulang ada detail-detail pembicaraan," ujarnya. (jpnn.com/elh)

Muhammad Elhami

“sesobek catatan di antara perjalanan meraih yang kekal dan memaknai kesementaraan; semacam solilokui untuk saling mengingatkan, saling menguatkan, berbagi keresahan dan kegetiran, keindahan dan kebahagiaan, agar hidup menjadi cukup berharga untuk tidak begitu saja dilewatkan”

Lebih baru Lebih lama