Kolaborasi STIE Widya Praja dan Sapta Group Siap Dirikan Universitas di Kabupaten Paser

PAPARAN DAN KOORDINASI: Kegiatan pemaparan dan koordinasi tersebut dihadiri oleh Bupati Paser, Fahmi Fadli, Pemilik Sapta Group, Dr. Slametno, Perwakilan LLDIKTI Wilayah XI, Taufik, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Paser, Romif Erwanadi, Pendiri Yayasan Widya Praja Tanah Grogot, H. Andi Mansyur dan H. Burhan AI, Ketua Yayasan Widya Praja Tanah Grogot, Suwito, Sekretaris Yayasan Widya Praja Tanah Grogot, Iskandar Zulkarnain serta Anggota Yayasan Sapta Bakti Pendidikan Muhammad Rifky Munandar - Foto Istimewa.

TOPRILIS.COM, TANAH GROGOT - Rencana pendirian universitas di Kabupaten Paser melalui skema penggabungan STIE Widya Praja Tanah Grogot dengan kampus milik Sapta Group mendapat dukungan berbagai pihak. Langkah ini dinilai strategis dalam meningkatkan akses pendidikan tinggi sekaligus mendorong pembangunan daerah.

Kegiatan pemaparan dan koordinasi tersebut dihadiri oleh Bupati Paser, Fahmi Fadli, Pemilik Sapta Group, Dr. Slametno, Perwakilan LLDIKTI Wilayah XI, Taufik, Asisten Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Kabupaten Paser, Romif Erwanadi, Pendiri Yayasan Widya Praja Tanah Grogot, H. Andi Mansyur dan H. Burhan AI, Ketua Yayasan Widya Praja Tanah Grogot, Suwito, Sekretaris Yayasan Widya Praja Tanah Grogot, Iskandar Zulkarnain serta Anggota Yayasan Sapta Bakti Pendidikan Muhammad Rifky Munandar.

Dalam kesempatan tersebut, Slametno menyampaikan bahwa kolaborasi ini merupakan bentuk komitmen menghadirkan perguruan tinggi yang lebih dekat dan terjangkau bagi masyarakat.

“Kabupaten Paser memiliki potensi besar untuk pengembangan universitas. Kami ingin memastikan putra-putri daerah mendapatkan akses pendidikan tinggi yang berkualitas tanpa harus keluar daerah. Ini bagian dari kontribusi kami dalam peningkatan SDM,” ujar Slametno, Jumat (27/2/2026).

Bupati Paser, Fahmi Fadli, menyatakan pihaknya mendukung penuh rencana pengembangan STIE Widya Praja menjadi universitas melalui skema penggabungan tersebut. Menurutnya, keberadaan universitas di Paser akan menjadi langkah penting dalam memperluas layanan pendidikan tinggi bagi masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi inisiatif dan kolaborasi yang dilakukan Sapta Group bersama Yayasan Widya Praja. Pemerintah Kabupaten Paser tentu mendukung penuh program ini karena sejalan dengan visi kami dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia serta mendekatkan akses pendidikan tinggi bagi masyarakat Paser,” tegas Fahmi.

Ia berharap seluruh proses administrasi dan perizinan dapat berjalan lancar sesuai ketentuan yang berlaku, sehingga universitas tersebut dapat segera terwujud dan memberikan manfaat nyata bagi daerah.

Sementara itu, perwakilan Yayasan Widya Praja Tanah Grogot, Suwito, menyampaikan apresiasi atas pertemuan dan dukungan semua pihak terhadap proses pengembangan STIE Widya Praja menjadi universitas.

“Pada prinsipnya kami dari Yayasan Widya Praja Tanah Grogot mengapresiasi pertemuan hari ini. Harapan kami, proses pengembangan STIE Widya Praja menuju universitas melalui skema penggabungan dapat berjalan lancar sehingga keinginan Bapak Bupati Paser untuk mendekatkan layanan pendidikan tinggi bagi masyarakat segera terwujud,” ungkapnya.

Ia menambahkan, kehadiran universitas di Kabupaten Paser diharapkan tidak hanya memperluas akses pendidikan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi yang signifikan.

“Kami optimistis pendirian universitas ini akan memberikan multiplier effect terhadap pertumbuhan ekonomi Kabupaten Paser, sekaligus mendorong percepatan peningkatan angka rata-rata lama sekolah sebagai salah satu agregat pembentuk Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Kabupaten Paser,” tambahnya.

Diketahui, dalam pembagian tugas kerja sama tersebut, pihak Widya Praja menyiapkan dokumen sewa gedung dan lahan minimal 10.000 meter persegi untuk jangka waktu minimal 10 tahun. Sementara Sapta Group menyiapkan dokumen pendirian universitas, tenaga dosen, tenaga kependidikan, serta sarana dan prasarana pendukung hingga seluruh proses perizinan selesai.

Proses pendirian universitas diperkirakan memerlukan waktu antara enam hingga 18 bulan. Seluruh pihak berharap rencana ini dapat berjalan sesuai tahapan dan regulasi yang berlaku.(rls/elhami)

Muhammad Elhami

“sesobek catatan di antara perjalanan meraih yang kekal dan memaknai kesementaraan; semacam solilokui untuk saling mengingatkan, saling menguatkan, berbagi keresahan dan kegetiran, keindahan dan kebahagiaan, agar hidup menjadi cukup berharga untuk tidak begitu saja dilewatkan”

Lebih baru Lebih lama