TOPRILIS.COM, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi meluncurkan Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Perbankan Indonesia sebagai panduan penting bagi sektor perbankan nasional dalam menerapkan teknologi Artificial Intelligence (AI).
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae menuturkan perkembangan AI menjadi salah satu isu penting yang perlu dicermati dengan serius. Ia menegaskan, AI memiliki kekuatan transformasional dalam dunia teknologi modern, karena mampu meniru kecerdasan manusia melalui mesin dan perangkat lunak. AI diprediksi akan menjadi komponen penting dalam pengembangan sektor keuangan di masa mendatang.
"Kecerdasan artifisial ini merupakan kekuatan transformasional dalam teknologi modern ini yang mencakup kemampuan meniru kecerdasan manusia melalui mesin dan perangkat lunak. Ini adalah merupakan salah satu komponen mungkin komponen penting di masa yang akan datang," kata Dian dalam peluncuran Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Perbankan Indonesia, Selasa (29/4/2025).
Mengutip laporan Fortune Business Insight tahun 2023, Dian menyampaikan, sektor teknologi informasi, telekomunikasi, jasa keuangan, dan industri otomotif merupakan sektor yang paling banyak mengadopsi AI secara global. Secara khusus, sektor perbankan, yang selama ini dikenal konservatif, justru menjadi salah satu yang paling cepat bertransformasi.
Transformasi ini didorong oleh kebutuhan untuk memperluas pengalaman nasabah (customer experience), meningkatkan efisiensi, memperbaiki manajemen risiko, mendukung deteksi fraud, serta memperkuat kepatuhan terhadap regulasi.
"Jadi, saya kira tidak ada satu pun saya kira kegiatan atau aktivitas perbankan kita yang tidak disentuh oleh artificial intelligence ini hampir sama dengan manusia yang hampir bisa menyentuh semua aspek kehidupan kita diperbankan," ujarnya.
Teknologi AI
Potensi Ekonomi dan Efisiensi Biaya melalui AI Dian menyampaikan, berdasarkan laporan Business Insider 2023 menunjukkan bahwa sekitar 80% bank telah menyadari potensi machine learning dalam AI untuk menghemat biaya operasional.
Lebih jauh lagi, teknologi generative AI diproyeksikan mampu menciptakan nilai tambah global hingga USD340 miliar. Dian mengungkapkan, angka ini menunjukkan betapa besarnya potensi AI bagi dunia perbankan dan industri jasa keuangan secara luas.
Meski menjanjikan banyak manfaat, penerapan AI juga menghadirkan berbagai tantangan serius. Beberapa di antaranya adalah penyalahgunaan teknologi deepfake, kurangnya transparansi dalam algoritma (fenomena black box), bias dalam proses pengambilan keputusan, ancaman serangan siber, hingga persoalan etika dan kesiapan sumber daya manusia.
Buku Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Perbankan Indonesia
Sebagai respons terhadap tantangan tersebut, OJK menerbitkan Buku Tata Kelola Kecerdasan Artifisial Perbankan Indonesia. Buku ini disusun berdasarkan berbagai referensi internasional dan nasional, serta memperhatikan diskusi di berbagai lembaga internasional.
OJK juga mengadopsi sejumlah standar global seperti yang diterbitkan oleh Basel Committee on Banking Supervision, Artificial Intelligence Act dari European Union, dan pedoman dari The Office of the Comptroller of the Currency di Amerika Serikat.
Buku Tata Kelola ini mengusung prinsip-prinsip dasar AI yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Nilai-nilai tersebut disesuaikan dengan norma dan nilai-nilai Indonesia, sekaligus memperhatikan standar internasional.
"Buku ini disusun berdasarkan berbagai referensi internasional maupun nasional dan memperhatikan hasil diskusi di berbagai lembaga internasional," ujarnya.
Dian menegaskan, implementasi kecerdasan artifisial di sektor perbankan tidak boleh dilakukan secara parsial. "Implementasi kecerdasan artificial yang bertanggung jawab tidak cukup dilakukan secara parsial melainkan harus menyeluruh dan terintegrasi dalam sistem tata kelola yang komprehensif," pungkasnya.(liputan6.com/elh)
Tags
Bisnis